Infeksi

nugrahaditya

Aku pernah jadi seorang pemuda yang bodoh. Mengira cinta bisa memberiku bahagia yang amat luar biasa. Hingga aku pandir, sayang. Aku merasa kau datang dan akan menghadiahkan aku senyum setiap hari. Cinta membuatku lupa bahwa harum bunga pun memiliki umurnya.
 
Karenamu aku jadi lupa diri. Ada masa ketika cinta membuatku merasa seperti pelukis. Bagaimana palet warna tiba-tiba muncul di sudut mataku dan telunjukku merasa dirinya adalah kuas yang bisa berubah ukuran dengan sendirinya. Dan lihat, aku melukismu di langit setiap hari.
 
Karenamu aku sering lupa diri. Tak cukup jadi pelukis, aku pun sering merasa diri seorang komposer. Heran, bagaimana bisa aku membuat musik sendiri tanpa belajar musik terlebih dahulu. Entah bagaimana telinga ini memperbaiki setiap kata-katamu jadi lagu, dan selalu indah-indah saja, sayang. Dan dengarkan, aku menyanyikanmu setiap hari.
Aku dan kebodohan kecilku. Terbodohi hingga segala bahagia menemukan muaranya. Hingga aku menemukanmu dengannya pun, aku masih berusaha memaafkanmu, dan mendoktrin…

View original post 160 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s