Desember yang Basah

20140103-143906.jpg

Minggu pertama Desember 2013
Seperti biasa, Desember selalu basah. Matahari malu malu menampakkan diri, mungkin ia hanya ingin hibernasi bulan ini.
Tik Tik Tik Tik…..
Suara rintik hujan menganggu lamunanku.
“Ah, Desember yang basah” kuamati bulir hujan yang berlomba menuruni jendela, menyesap sedikit manis di cangkir coklat panasku.
Aku, bukan siapa siapa. Panggil saja Karina, Gadis beranjak dewasa yang tinggal di rumah sederhana, yang jatuh cinta pada sunyinya pantai, buku buku sastra, Desember yang basah, dan dia.
Sudah lebih dari 365 hari Dia memberi warna dia hitam putih hari hari ku. Memberikan rasa yang ku anggap jauh lebih manis dari kue gula manapun. Dia, Ziel.
Dan saat ini sudah lebih 2jam aku menunggunya, jangan katakan dia menggenapkan pembatalan janjinya menjadi 5. Rindu ku tak dapat aku tunda lebih lama, mengapa dia jadi berbeda ?

Minggu kedua Desember 2013
Orang mulai sibuk merutuki hujan, ribut memikirkan kado natal terbaik, tempat perayaan pergantian tahun yang menarik, tidak untukku. Aku hanya ingin semua kembali baik.
Operator lebih sering menjawab panggilanku di telfon genggam Ziel. Ia tak lagi mengucap ‘selamat pagi cantik’ di pagi hariku, semua terasa janggal. Aku rasa ini hanya ilusi mengada ada ku saja, tapi ini nyata.
November lalu, aku sempat ragu untuk berjuang menjadikan dia pasangan hidup, yang tentu saja membuatnya sedikit kalang kabut dan berujung pertikaian kecil. Tapi, bukan Ziel jika ia tak mampu membujukku, meyakinkanku, dan mampu membuatku kembali percaya untuk memberikan akhir bahagia di kisah tanpa restu ini. Apa itu penyebab semua ini ?
Desember masih basah, namun kali ini mulai membagi basah dengan mataku.

Minggu ketiga Desember 2013
Aku mulai terbiasa dengan segala macam keanehan Ziel. Mencoba tetap mengenyahkan pikiran negatif, aku terlalu sayang. Kesimpulan yang semua orang tahu kebenarannya.
Bulan bulan pertama dengannya sudah membuatku berfikir bahwa, jika ia tak ada lagi di hidupku nanti, aku tahu tak akan ada lagi jiwa disini. Ia pasti pergi membawa hati.
Sore ini ia kembali membahas pernikahan, mengatakan beberapa orang menyuruhnya mencari pendamping sesegera mungkin. Aku anggap itu candaan, usianya belum genap 22, tidak banyak laki laki menikah di usia belum 22.
Kami tertawa membahasnya, sayang aku terlambat menyadari ada yang lain di tawanya.

24 Desember 2013
Malam natal, merupakan malam bahagia, malam yang ditunggu sebagian orang. Aku disini, dengan coklat panas, dan padang bintang yang luas.
Desember sedang berbaik hati pada beberapa orang dengan tidak menjatuhkan tangisnya, namun ia memberikan dukanya padaku.
Dua hari kemarin, Ziel memutuskan berhenti berjuang untuk akhir bahagia kita, entah apa yang dia pikirkan, tak ada lagi kita.
Aku mencoba menerima semua, tersenyum depan semua orang, meyakinkan diri bahwa aku baik baik saja.
Tapi apa yang jujur dari kalimat “baik baik saja” seorang wanita ?
Malam natal malam bahagia beberapa orang, bukan malam bahagiaku.

28 Desember 2013
Aku mulai membiasakan diri tanpanya. Meski masih tanpa senyum dan asupan untuk tenaga, selebihnya sama.
Sakit bukan hanya bersarang di dada, tapi juga dengan seluruh raga.
Apa daya, aku hanya mampu mencoba bertahan. Membiarkan luka mengambil waktu yang ada, sesukanya, selama yang ia bisa.
Tujuh hari selepas akhir dari cerita aku dan dia, ku kira ia akan datang meminta cinta kembali ke cerita kita. Aku salah terlalu percaya.
72 jam menuju pergantian tahun, Desember masih basah, aku tak lagi peduli, ku harap akan ada kado indah di penghujung bulan yang basah ini.

31 Desember 2013
2014 bisa digapai sesaat lagi. Ribuan orang sudah bersiap dengan terompet warna warni dan bunga api.
Ribuan lainnya bersiap dengan sederetan harap untuk dipenuhi tahun nanti, yang ternyata sama saja dengan harapan tahun ini.
Jalanan mulai dipadati dengan hiruk pikuk orang orang tadi, mereka tak peduli kalau hujan bersiap datang beberapa saat lagi.
Aku menatap pemandangan riuh diluar jendela kamar, menikmati suara petasan yang mulai dinyalakan sejak dini hari, tak ada sedikit pun niat untuk menikmati pergantian tahun ini, aku lebih memilih meratapi diri.
Ketukan di pintu kamar memaksa ku untuk keluar dari duniaku sejenak.
“Ada apa ?”
ibu tua paruh baya yang sejak kecil mengurusku memberikan sebuah benda berwarna putih kehijauan.
Kuraba pelan nama yang ada diatas benda itu “Azriel Bimasakti” dan “Santika Handayani”
Lepas sudah baut yang menyatukan engsel tulangku, jatuh terduduk, bagai terhempas dari langit ketujuh.

Kembang api pergantian tahun yang meramaikan langit berbintang tadi, sudah dikalahkan oleh tetesan air dari langit yang seolah mengerti akan perasaan di hati ini. Tak ku sangka mencintai seseorang bisa sesakit ini, air mata berlomba dengan air duka dari langit.
Kado penghujung tahun yang ku harap membawa sedikit bahagia, ternyata tidak ada, hanya duka yang tersisa.

Undangan pernikahannya, di Desember yang basah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s