Sebuah Kedai Kopi

Raga ini sendiri.

Terpatri pada bangku pojok kiri,

di sudut sebuah kedai kopi.

Kedai kopi yang tak pernah sepi.

Saksi mati, akan tiap temu dan pergi,

kita yang kini tak ada lagi.

 

Disini, aku menyusuri,

tiap kenangan yang pernah terjadi.

Dua gelas ice lychee tea, berbagi spaghetti,

hingga

Adu mulut yang berakhir turunnya air ke pipi.

 

Terekam jelas,

Sejauh ini, tempat ini kesukaanku” katamu, dulu.

Sekarang, hanya aku.

Yang berusaha tetap tenang meski bertubi-tubi dijatuhi rindu.

Segala hal tentang kamu,

baik burukmu.

Tetap, dan masih buatku tertunduk, pilu.

 

Disini, di kedai kopi yang tak pernah sepi,

dan malam yang sudah selarut ini.

Aku tak mau beranjak pergi,

tidak se senti,

tidak untuk pulang, kembali.

Berharap tiba-tiba kamu menghampiri.

Menghabiskan ice lychee tea, merebut spaghetti,

menghapus air di pipi.

Dan menempati bangku kosong di depanku ini.

Hingga akhirnya, di kedai kopi yang tak pernah sepi ini,

aku tak lagi sendiri,

karena kamu sudah kembali.

 

Jakarta, 1 Februari 2017 / 23.00 WIB

Djournal Grand Indonesia – tempat kesukaan kita –

aku yang sedang tak ingin pulang, karena ia belum datang

(atau tak akan lagi pernah datang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s