Curhat #1

Hai (yang sekarang sudah jadi) Orang Asing,

aku hanya ingin menguraikan perasaan yang tak kunjung reda.

Juga ingin membuat sebuah pengakuan.

Aku mencintaimu lebih dulu.

Iya, sebelum malam panjang di Malioboro, Januari 3 tahun lalu.

Aku mencintaimu sesaat setelah mataku menangkap kamu di hujan Borobudur.

Aku mencintaimu yang saat itu berseragam club bola kesukaanmu.

Hai (yang sekarang sudah jadi) Orang Asing,

biarkan aku turut menguraikan waktu bersama kita yang penuh suka duka.

Ingatkah saat pertama kita bertemu sebagai “kita” di Bandung dulu, kamu yang tidak tidur seharian, Bandung yang dingin buatmu demam. Kamu pun lelap bersandar di bahuku di bangku belakang.

Ingatkah masa-masa tanpa telepon genggam? Kita yang berjarak Jakarta – Jogjakarta, komunikasi seadanya via dunia maya, kamu berusaha dan aku pun baik baik saja.

Ingatkah masa-masa kita sekota namun tanpa kendaraan? pertemuan seadanya, kamu dengan sepeda, dan aku tak bisa sama sekali berkendara.

Ingatkah masa-masa kamu berkunjung ke Jakarta? Kusiapkan air hangat dan sarapan pagi untuk kamu yang telah menempuh ratusan kilometer menemuiku.

Ingatkah saat kamu mengajariku menyetir kendaraan roda empat, menghela nafas, menahan emosi, mencoba sabar mengajariku yang penuh ketakutan. Dan akhirnya, pagi itu entah pagi keberapa, aku berhasil menyetir sampai rumahmu. Terima kasih sayang.

Ingatkah saat kita sama-sama sibuk dengan tugas akhir? Kamu menenangkan aku yang suka panik, aku membantumu mengetik hasil suara narasumber, dan kita tertawa akan narasumbermu yang aku lupa siapa namanya.

Ingatkah saat aku menangis panik di Bandara Jogja, karena pesawat yang tertunda. Karena pergiku kesana rahasia, aku takut tak bisa balik ke Jakarta. Kamu menyuapiku nasi ayam kompensasi seadanya dari maskapai berlogo singa.

Ingatkah saat-saat kita berkeliling wisata Jakarta bersama temanmu yang bernama Bima? Ia yang selalu mengabadikan momen kita bersama.

Ingatkah saat kita turun di Halte Kuningan Madya berjalan kaki sampai rumahku? Pisang goreng kesukaanmu jatuh tumpah di jalan karena kau terlalu senang mengayunkan tangan.

Ingatkah saat kamu memutuskan mencari pekerjaan di Jakarta? Menghabiskan setiap hari di belakang rumahku, mencari lowongan pekerjaan dengan teh manis hangat.

Ingatkah bagaimana kamu selalu berakhir pekan di belakang rumahku? Merebus mie instant, menonton film online, bermain ukulele, bahkan kebersamaan yang hanya diam seribu bahasa.

Ingatkah percobaan kita 3 kali menuju puncak Monas di Malam hari, yang selalu gagal? (tapi, kamu sudah kesana kan sama dia? Tak apa, aku tak lagi ingin kesana)

Ingatkah saat kamu sakit, dan pagi itu aku bergegas ke tempatmu. Dengan bubur, susu, dan berbagai macam obat. Menyuapimu yang sedang tak berdaya. Bahkan keesokan harinya aku datang hanya karena kamu ingin tidur melihat aku ada disana (meski sepupumu selalu disana)

Ingatkah kamu saat kita sekota di kota asal kita, aku selalu menjemputmu sebelum aku pergi kemanapun (karena kamu aku berhasil nyetir sendiri)

Ingatkah saat kita sama-sama sakit di perjalanan tahun baru menuju Malang? Kerokan di kereta? Dan kamu yang sudah jelas tau jawabannya masih bertanya “sayang banget ya sama aku?”

Ingatkah kamu saat kita benar benar terlelap sehabis LaLaFest, dan aku yang memijit kepalamu hingga kamu tertidur?

Ingatkah kamu saat kita diturunkan supir bis dari Serang sebelum pintu Tol Cawang? Hujan deras dan kernet yang menertawakan aku yang harus berlari terguyur hujan, kuyup. Tapi aku sangat bahagia, karena kuyup bersamamu.

Ingatkah saat kamu selalu meminta aku membersihkan telingamu? Dan aku yang selalu suka hal itu.

Ingatkah kamu kalau aku selalu suka mengelus lenganmu?

Hai (yang sekarang sudah jadi) Orang Asing,

Sekarang, aku akan menyampaikan kesukaan-kesukaan aku, kamu, dan kita.

Mungkin hanya beberapa, karena aku yakin aku pun masih kurang peka.

Aku suka ultra coklat, kamu lebih memilih strawberry.

Kamu suka beng-beng, dan kita suka malkist roma yang biasa.

Aku suka baksoku pedas, kamu suka makanan berkuahmu biasa saja, tanpa tambahan apa-apa.

Kita suka ice lychee tea dan salmon crispy aburi.

Parfumku selalu aroma vanilla, kamu selalu aromamu yang tak pernah hilang, meski katamu hanya parfum yang bisa dibeli di supermarket mana saja.

Aku suka menulis dan membaca fiksi, kamu suka dan pandai bermain alat musik apapun.

Kita suka berkeliling dengan KRL atau Busway.

Aku suka hemat, kamu suka belanja jaket.

Aku suka kamu, kamu suka dia, kita sudah tidak ada.

 

Untuk kamu, yang sekarang sudah jadi orang asing.

Semoga, kamu ingat semua.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s